5 Tokoh Perang Dunia II yang Membuat Rambo jadi Terlihat Culun!!
Oke, ini sebenernya bukan ide yang
orisinil. Ide untuk ngebikin ini timbul setelah gw baca di situs cracked.com yang beropini mengenai 5 jagoan
yang bikin Rambo terlihat seperti banci..
Tapi ga apa-apa lah...sekali-sekali gw menebar unsur plagiarisme di blog
gw. Lagian juga ini gw adopsi doang kok. Yang gw ambil itu 5 tokoh dari Perang
Dunia II doang, yang merupakan event histori favorit gw. Datanya juga cuman
dikit yang gw embat dari situs itu. Ga masalah kaan? (hehehehe, nyari
pembelaan).
Ga pake banyak cingcong, mari lihat 5 tokoh pilihan gw (nomer ga urut,
karena gw bingung untuk nentuin yang paling MACHO! haha)
1. John Basilone : Tiga Hari tanpa Makan dan Tidur Menghadapi 3.000
Orang

John Basilone mendaftarkan diri sebagai U.S Marine Corps pada tahun 1940. Segera setelah itu, ia
diterjunkan ke medan perang pasifik, melawan Jepang. Salah satu medan perang
yang paling mengerikan bagi sekutu di sana adalah di Guadalcanal, Kep.Salomon.
Basilone turut berperang dan mendapatkan nama harum di sana, pada tahun
1942
Tersebutlah, bahwa ia bersama kompinya diharuskan untuk menahan serangan
Jepang di satu pos di medan Guadalcanal. (Catetan gw : satu kompi dalam kondisi
lengkap dan 'sehat' biasanya diisi sekitar 100-150 an orang, dan dipimpin oleh
perwira yang paling tidak berpangkat Letnan sampai Kapten. Basilone sendiri
berpangkat Sersan, sehingga dia merupakan orang di rantai komando selanjutnya
apabila sang pemimpin kompi terbunuh. Itulah yang kemudian terjadi.)
Seiring dengan terbunuhnya si komandan kompi, Basilone bertanggung jawab
atas pos yang dihuninya. Ganasnya serbuan Jepang dan tidak datangnya pasukan
bantuan, mengakibatkan Basilone hanya tinggal memiliki 15 orang untuk bertempur
melawan 3.000 pasukan Jepang di hari pertama. Hingga hari ketiga, ia kehilangan
12 orang lainnya, dan hanya bertahan dengan 2 orang bawahannya. Dalam sejarah
disebutkan bahwa selama 3 hari ia berperang tanpa makan, minum, tidur, maupun
istirahat. Ia menggunakan semua senjatanya untuk berjuang mempertahankan posnya
dari serbuan Jepang. Mulai dari machine gun hingga pistolnya. Pada akhir hari
ketiga, ia berhasil menahan serbuan 3.000 orang itu (ga ada sumber yang jelas,
pasukan Jepang itu mati semua atau ditarik mundur. Yang jelas dia menang melawan
ribuan orang itu!!).
Kebayang kan, kalo Rambo emang ga ada apa-apanya dibanding Sersan gendeng
ini?
Pada akhirnya Basilone ditarik kembali ke Amerika untuk mendapatkan
perawatan dan medali. Bukan main-main, yang ia dapat adalah medali tertinggi
yang bisa didapat oleh semua prajurit perang, yaitu Medal of Honor.
Orang yang sudah mendapat medali ini biasanya tidak diperbolehkan untuk
kembali ke medan perang. Alasannya sih ga dipublikasi, tapi dugaan gw...pada
saat itu emang perlu banyak banget orang yang selamat dari medan perang untuk
kembali ke tanah air dan menceritakan apa yang terjadi semuanya. Ia berperan
baik sebagai pewarta berita, maupun tokoh yang bisa dijadiin panutan dan sumber
inspirasi. Banyak banget kasus kaya gitu di medan Perang Dunia II.
Oke, singkat kata, Sersan Basilone ini juga pada awalnya tidak
diperbolehkan untuk pergi berangkat lagi ke medan perang. Tapi Basilone memaksa,
dan akhirnya ia dimasukkan ke pasukan yang akan bertempur merebut pulau Iwo Jima
(ini pulau yang sangat mengerikan dalam sejarah militer Amerika. Alesannya
mudah, pulau ini bener-bener makan banyak banget korban jiwa akibat kesadisan
dan kegigihan tentara Jepang).
Mendarat di Pulau Iwo Jima, kompi Basilone dihancurkan oleh serangan dan
tembakan pasukan Jepang dari garis pantai. Namun ia membalas dendam. Seorang
diri berhasil menghancurkan satu rumah persembunyian Jepang yang memiliki
tembakan otomatis MG-42 (tembakan yang menyapu kompinya di garis pantai itu).
Sayangnya, beberapa menit kemudian ia tewas terkena serangan senjata artileri
Jepang. Namanya kini digunakan untuk sebuah kapal induk Amerika, dan nama-nama
di ruas jalan Amerika pula.
2. Vassili Zaitsev :
Penembak Jitu Rusia yang
Menghabisi Nyawa 500 Musuh
Bagi yang pernah nonton film berjudul Enemy at the Gates, tentu akrab dengan nama ini.
Ya, film yang dibintangi Jude Law tersebut memang berkisah tentang dirinya,
walaupun sebagian besar adalah fiksi.
Zaitsev merupakan sniper atau penembak jitu Rusia yang lahir dan
besar di pegunungan Ural. Sehari-harinya, Zaitsev kecil menghabiskan waktu
dengan berburu Serigala menggunakan senapannya. Menjelang Perang Dunia II, ia
mendaftarkan diri di angkatan laut Soviet, tapi kemudian dipindahkan ke resimen
infanteri.
Pada tahun 1942, ia ikut dalam peperangan membebaskan Stalingrad. Di
sinilah jasa Zaitsev banyak dikenang. Pada medio November hingga Desember 1942, ia membunuh
hingga 225 tentara musuh, semuanya hanya bersenjatakan senapan
Mosin-Nagant!!
Sasaran utama dari
tembakan jitunya adalah para perwira Jerman, sehingga diharapkan ia dapat
menyebabakan kekacauan di dalam rantai komando dan struktur kemiliteran Jerman.
Pada akhirnya, ia berhasil mencapai hal itu. Selepas perang di Stalingrad, ia
masih meneruskan aksinya. Ditengarai ia mampu menghabisi nyawa 500 orang pasukan
Jerman lainnya. Vassili sendiri bukan tidak pernah menjadi sasaran penembak jitu
musuh yang geram terhadap aksinya. Pencarian besar-besaran pasukan Jerman
terhadap dirinya mulai dilakukan. Ia sendiri pernah nyaris terbunuh oleh
penembak jitu Jerman.

Vassili Zaitsev dengan Senjata Andalannya
Di film Enemy at the Gates, difiksionalisasi bahwa ia
berduel mati-matian dengan ahli penembak jitu Jerman yang bernama Mayor Erwin
Konig. Mayor Konig ini digambarkan sebagai seorang penembak jitu tua yang
berpengalaman, dan bahkan ditugasi untuk mengawasi sekolah sniper di Berlin. Mayor
Konig sengaja dipanggil dari sekolah yang dikepalainya, untuk datang ke Rusia
dan memburu Zaitsev. Cerita ini sempat simpang siur kebenarannya, kendati ada
catatan yang menyebutkan bahwa Zaitsev pernah hampir ditembak juga oleh
seseorang bernama Konig, kendati akhirnya ia bisa berbalik menang dengan bantuan
temannya.
Tidak seperti Basilone, Zaitsev mengakhiri hidupnya dengan relatif tenang
di Rusia, pada tahun 1991. Hingga kini senapannya masih tersimpan rapi di dalam
museum militer di Moskow. Kemampuan Zaitsev dalam menembak jitu kerap
dibandingkan dengan Simo Hayha, penembak jitu dari Finlandia. Kendati tidak
pernah bertemu di medan perang yang sama, namun beberapa sejarawan mengklaim
bahwa secara data statistik, Hayha masih lebih unggul daripada Zaitsev!! Kisah
mengenai Simo Hayha juga ada di post ini..Jadi tenang aja, hehe.
3. Hans - Ulrich
Rudel : Penghancur 2.000 Kendaraan Militer Sekutu
Bukan Jerman namanya kalau tidak punya pahlawan perang yang patut
dibanggakan. Yang satu ini hadir dari Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe), bernama
Hans-Ulrich Rudel. Ia adalah penerbang pesawat pembom Jerman yang legendaris, Stuka. Rudel bergabung
bersama Luftwaffe pada tahun 1936, dan pada tahun 1941 ia
mendapat misi tempur pertamanya, dengan pangkat Letnan. Atas jasanya hingga
perang berakhir tahun 1945, ia mendapatkan satu-satunya medali Knight Cross dengan
daun Oak emas. Apa prestasi yang membuat orang ini begitu diagungkan sehingga
layak mendapatkan satu-satunya penghargaan yang tidak pernah diterima oleh
tentara Jerman yang lain?

Hans-Ulrich Rudel
Well, percaya atau tidak, selama 4 tahun ia telah
ikut dalam 2.530 misi penerbangan. Hasil yang diperolehnya adalah, ia mampu
mengahancurkan : 800
kendaraan berupa Jip, Truk Angkut dan mobil militer lainnya, 519 Tank, Sebuah
Kapal Penghancur, 2 Kapal penjelajah, Sebuah Kapal Induk Rusia, 70 Landasan, 4
Kereta Berpelindung Baja, Beberapa
Jembatan, dan 9 Buah Pesawat yang ia tembak jatuh! Ditotal dengan kendaraan kecil lainnya, beberapa sumber
mengklaim bahwa ia telah menghancurkan lebih dari 2.000 kendaraan militer
sekutu.
Pada tanggal 13 Maret 1944, ia pernah mengalami
pertempuran udara dengan pilot legendaris Rusia, yang tidak hanya sekali
dianggap sebagai pahlawan besar negara tersebut. Pilot sepanjang masa Rusia
(secara statistik) tersebut bernama Lev Shestakov. Dan tebak siapa yang akhirnya
menang? Ya, Rudel menembak jatuh sang pahlawan Rusia hingga menyebabkan
kekacauan dan kepanikan luar biasa di tengah pasukan angkatan udara
Rusia.
Rudel pernah tertembak jatuh di awal tahun 1945, hingga menyebabkan kakinya
harus diamputasi. Setelah operasi amputasi, ia masih sanggup menerbangkan
pesawatnya hingga menghancurkan 26 Tank lagi.
Setelah Jerman kalah pada bulan Mei 1945, ia terbang ke Amerika untuk
menyerahkan diri. Pada tahun 1948 ia dibebaskan dan tinggal di Argentina.
Hans-Ulrich Rudel meninggal pada tanggal 18 Desember 1982 di Jerman.
4. Simo Hayha :
Pembunuh Massal Penyebar Teror di Hutan Salju
Apabila di atas sudah dituliskan kisah heroik dari penembak jitu bernama
Vassili Zaitsev di Rusia, Finlandia memiliki tandingan penembak jitu bernama
Simo Hayha.
Rusia menginvasi Finlandia di pertengahan tahun 1939. Karena hampir
keseluruhan perang mempertahankan Finlandia berlangsung di hutan, maka Hayha
memilih untuk bersembunyi di atas pohon setinggi 6 kaki, di tengah salju
sedingin 20-40 derajat di bawah Celcius. Di titik itulah ia dengan jitu
menghabisi nyawa serdadu Tentara Merah. Pada awalnya puluhan, dan terus naik
menjadi ratusan.
Pasukan Rusia menjulukinya "White Death" karena ia menggunakan baju pelindung warna putih
untuk berkamuflase dengan salju. Beberapa kali Rusia mengirimkan pasukan
perintis ke hutan tempat Hayha bersembunyi, namun semuanya berhasil disapu habis
olehnya. Pasukan penembak jitu yang dikirm oleh Rusia (minus Vassili Zaitsev,
karena waktu itu Zaitsev belum tergabung dalam satuan penembak jitu Rusia)
dikirim juga, dan kembali berakhir dengan kematian semuanya di tangan
Hayha.

Simo Hayha, The White Death
Selama 100 hari
bersembunyi di hutan dengan berkamuflase di tengah suhu sangat dingin, Hayha
terhitung berhasil mengeliminasi 542 prajurit Rusia dengan senapan laras
panjangnya. Itu belum ditambah dengan jumlah yang ia tembak dengan senapan
otomatisnya. yang ditaksir mencapai sekitar 150 orang!!
Komando militer Rusia yang sangat terganggu
dengan aksinya, memutuskan untuk membombardir hutan tempat Hayha bersembunyi.
Dengan bantuan artileri udara dan darat, hutan itu benar-benar habis
dibombardir. Tapi memang beruntung dan luar biasa, Simo Hayha berhasil selamat
dari bombardemen tersebut.
Akhirnya, tidak seorang Rusiapun berani masuk
ke hutan tersebut, tanpa misi tertentu. Mereka takut akan cerita Simo Hayha dan
White Death.
Namun seiring berjalannya waktu dan banyaknya pasukan yang dikirim untuk
membunuh Hayha, akhirnya ada juga sebuah peluru yang mengenainya. Naasnya,
peluru ini bukan peluru biasa melainkan peluru berpeledak. Peluru itu mengenai
rahangnya, merobek pipi sebelah kirinya, dan menghancurkan wajah kirinya.
Akhir untuk White Death? Ya untuk di Perang Dunia II, tapi
tidak untuk hidupnya. Setelah menjalani perawatan, Hayha berhasil selamat
beberapa tahun kemudian. Sayang ia tidak sempat menghadapi pertarungan dengan
Vassili Zaitsev, sniper Rusia yang disebut-sebut tidak kalah jitu
dalam menghabisi musuh. Hayha muncul di saat Zaitsev belum terdaftar di pasukan
Infanteri, dan Heyha mengalami koma di saat Zaitsev tengah mencapai masa
gemilangnya...
5. Lacchiman Gurung : Tangan Kiri Membantai 31 Orang
Jepang
Lacchiman Gurung adalah orang Nepal yang
tergabung di dalam pasukan Inggris dan Persemakmuran, dan dikirim ke medan
perang Pasifik. Tidak banyak sejarah yang bisa didapat mengenai orang ini, baik
mengenai karir kemiliteran maupun riwayat hidup yang mendetail.
Tapi, alesan gw bikin post ini adalah untuk
menunjukkan sesuatu yang lebih heroik daripada Rambo, sesuatu yang lebih brutal
daripada Rambo, dan seseorang yang terluka lebih banyak daripada Rambo. Jadi,
tanpa banyak riwayat dan kesejarahan embel-embel yang lain, Gurung sesuai dengan
kriteria penulisan gw.
Gurung diterjunkan di Myanmar, tempat ia dan
kompinya berserta peletonnya (kelompok terkecil dalam kemiliteran, di bawah
kompi) harus bertahan dari serangan Jepang. Saat jumlah orang di kompinya
tinggal menyusut hingga jumlah belasan, sekitar 200 serdadu Jepang masih
mengepungnya. Dua kali granat tangan dilemparkan kepadanya, namun dua kali pula
granat itu ia lempar balik ke arah musuhnya. Kali ketiga granat datang, ia
mengambilnya dan kembali hendak melempar balik. Namun sayangnya, granat
terlanjur meledak di genggaman tangan kanannya, menyebabkan jari-jari
tangannya hancur, dan lengan kanannya tidak bisa digunakan. Serpihan granat juga
menyebabkan kakiknya terluka dan tidak bisa berlari, tubuh bagian kanannya luka
parah, dan wajahnya juga. Bahkan penglihatannya yang kanan menjadi tidak bisa
digunakan. 2 Kawan disampingnya juga terluka parah dan tidak bisa kembali
bertempur.
Gurung tetap berusaha melanjutkan posisi
bertahannya dengan hanya menggunakan lengan kirinya saja. Dengan kondisi tubuh
sebelah kanan yang semuanya nyaris cacat dan lumpuh, ia mempertahankan diri dari
serangan Jepang. Selama 4 Jam ia berhasil bertahan, hingga datang pasukan
bantuan. Di sekitar lubang perlindungan Gurung, ditemukan 31 mayat serdadu
Jepang yang terkena tembakan dari lengan kirinya.
Segera setelah itu, Gurung ditarik kembali
untuk mendapat pengobatan. Dengan mata buta dan tangan kanan hilang, Gurung
masih memaksa untuk ikut diturunkan di medan peran Pasifik. Atas jasa dan
keberaniannya, tahun 1945 ia menerima medali Victory Cross. Ia selamat dari keseluruhan
peperangan dengan luka yang sangat parah, dan pulang kembali ke Nepal pada tahun
1947.
*Setelah baca post ini, masih terpikir untuk memasukkan Rambo ke
dalam daftar 5 besar gw? Hehehehehe....semoga tidak!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggal Kan Komentar Mohon Jangan SPAM yang tidak mendukung blog ini !!!